Kamis, 28 April 2011

Bunga Ungu di Kebun Bunga

Bunga cantik itu berwarna ungu,
dengan kelopak – kelopak indah bermekaran yang menawan hati.
Batangnya tidak terlalu panjang namun tebal.
Membuatnya sepintas terlihat lemah, juga kuat.
Lemah karena panjangnya yang tidak seberapa.
Namun kuat karena ketebalannya yang meyakinkan.

Dia adalah salah satu dari sekian banyak bunga yang menghuni kebunku.
Kebunku penuh dengan beraneka warna bunga.
Ungu, Kuning, Merah, Oranye dan banyak lagi.

Si ungu ini adalah bunga pertama yang aku tanam.
Tidak ada yang aneh dengannya. Dia sangat indah dan sangat aku sayang.
Bunga-bunga yang lain juga suka padanya.
Dia selalu ceria dan membuat bunga yang lain nampak indah.

Suatu hari, datanglah si Tukang Kebun.
Ia selalu memeriksa bunga – bungaku satu persatu.
Lalu merawatnya dengan obat ketika ada yang sakit.
Aku selalu berdoa kepada peri tanaman,
Agar tidak ada satu bunga pun yang sakit.

Tukang kebun lama sekali mengamati bunga unguku.
Aku bertanya-tanya ada apa dalam hati.
Dan menyilangkan jariku agar si ungu tidak mengapa.

Tukang kebun menghampiriku dengan wajah sedih.
Mengatakan bahwa bunga unguku sedang sakit.
Dan mungkin kelopaknya tidak akan semekar dahulu.
Dalam hatiku ingin menangis,
Aku suka sekali melihat bunga unguku mekar dengan sempurna.

Tapi kemudian bunga unguku memancarkan senyuman hangatnya.
Aku akan tetap bermekaran, walau tidak secantik dahulu.
Begitu bisiknya.

Bunga – bunga yang lain pun menggetarkan sesuatu yang sama.
Agar aku tidak terlalu bersedih.
Karena bunga unguku akan tetap ada.
Di tengah – tengah bunga yang lain.

Dan angin pun berhembus.
Mengeringkan air mataku.
Menata senyumku.

(28 April 2011. 23:09.)

Sabtu, 23 April 2011

Teruntuk Dia, Dia yang Lain, dan Dia yang Lainnya Lagi


Malam ini, Gemerlapan lampu kota terasa berbeda. Sedikit asing, namun menyenangkan. Setelah sekian lama hanya berdiam diri di rumah saja selama weekend, kini aku mulai mencoba menyibukan diri lagi.

Kotaku ramai malam ini. Banyak diadakan acara yang dapat menyejukkan kaum hedonis rupanya. Pintar sekali mereka yang berbisnis hiburan ini. Warga kotaku, yang katanya kota terbesar kedua setelah ibukota, benar-benar sedang haus hiburan. Long weekend katanya. Liburan beruntun. Jumat – Minggu. Bahkan ada beberapa yang sudah sengaja meliburkan diri sejak hari Kamis. Nikmati sajalah teman - teman, Dan aku sendiri pun merasa tidak pernah berlibur.

Hati dan pikiranku tidak pernah ’berlibur’. Selalu dalam kondisi under pressure yang membuatku kadang-kadang terpikir untuk meledakkan diri saja. Tapi tidak meledakkan diri atas nama agama-agama atau konflik tidak jelas lainnya itu loh. Aku hanya ingin meledakkan apa yang sebenarnya ingin aku muntahkan, semua pikiran sumpek yang ingin menyeruak keluar. Ya, aku hanya ingin meledak. Setidaknya, malam ini saja.

Acara di sebuah taman ini sudah penuh dengan hingar bingar manusia sejak aku dan teman-temanku datang. Bertemakan festival makanan dan musik khas, acara ini sungguh menarik massa yang unik. Sedangkan aku dan teman-temanku mencoba peruntungan sekaligus mengisi waktu luang. (Walaupun tidak ada waktu luang dalam kamusku, sebenarnya). Irama musik perkusi menyambut kedatanganku. Namun aku kurang dapat menikmatinya. Aku coba mengalihkan perhatian ke stan – stan makanan yang ada di sekitar, namun aku harus dengan sadar berbalik putar arah ke tempat asal, karena uang di dompet tidak memungkinkan. Akhirnya, aku datangi stan pendidikan yang menawarkan beasiswa untuk kuliah di Amerika. Aku ambil semua brosur disana. Berharap bisa kecantol di salah satu program yang ada. Lagi-lagi, harapan bodoh itu membuatku excited tidak karuan.

Dengan bosan, aku lihat sekeliling. Rata-rata mereka datang dengan pasangan masing-masing. Tua-muda, jelek-cantik, kaya-biasa aja, semuanya. Lalu aku melihat diriku sendiri. Dan tersenyum. Entahlah, aku merasa bahagia melihat mereka semua bahagia dalam cerita mereka sendiri. Membuatku semakin nyaman dengan kesendirianku kali ini.

Dari sudut pandang yang lain, aku melihat seorang pria (atau mungkin lelaki? Karena usia yang sepertinya belum terlalu dewasa) sedang menggendong bayi. Sangat mungkin, yang digendong itu anaknya. Lelaki itu sangat cuek, memakai t shirt dan eyeliner di mata dengan sangat mencolok. Aku merasa pemandangan itu lucu. Aku akan selalu mengingatnya dengan tag line yang aku buat sendiri, ”Emo boy with his baby sweetie” lalu tertawa terbahak-bahak sendirian. Tidak peduli walau dianggap gila.

Pandanganku tertuju ke pria yang ada di sebelah Si ‘Emo Boy featuring His Cutie Baby’ itu. Ada seorang pria dengan dandanan gothic, dan baju sobek-sobek sana-sini sedang melamun, muram, dan menghisap rokoknya sangat dalam. Sepertinya Ia sedang sedikit depresi, sama sepertiku. (atau mungkin Ia hanya berakting seram?) Tapi yang membedakan kami adalah, aku sama sekali tidak ingin menampakkan wajah muram durjaku ke orang-orang, apalagi teman-temanku. Itulah penyebab, mungkin anda sekalian, jarang melihatku murung.

Terpikirkan sekilas pada seseorang itu, aku mengirim sms basa-basi kepadanya. Aku merindukannya. Rindu yang membuat malam – malam dinginmu terasa seperti di gurun sahara. Dan begitu pula sebaliknya. Siang mu yang menyengat dengan gilanya menjadi serasa di puncak gunung everest. Menyakitkan.
Dia membalas smsku. Hatiku sepintas seperti disiram minyak tanah, menunggu untuk disulut api.

Setelah itu, ada sesosok manusia yang kedatangannya benar-benar tidak terekspektasikan. Tapi dia datang, dengan senyum dinginnya. Entah maksudnya apa, entah memang dia ingin bertemu aku disana atau karena dia bingung menghabiskan malam dimana, tapi aku benar-benar berterima kasih. Setidaknya, kedatangannya tadi membuatku sedikit merasa seperti ’manusia’, rasa yang sudah aku lupakan akhir-akhir ini.

Mungkin kali ini aku benar-benar kecewa dan terluka dalam. Mengingat bahwa kebahagiaan untukku harus menunggu sampai waktu yang tidak terdefinisikan. Dengan manusia-manusia brengsek yang sama saja, datang dan pergi tanpa permisi. Dengan kekacauan memori yang mungkin aku idap permanen. Aku hanya ingin menghapus dan mengingat semuanya secara acak.

Memaksakan hati untuk menerima apa yang ada, aku rasa bukan pilihan yang bijak saat ini. Karena memang tidak ada yang layak untuk memilih dan dipilih disini. Cinta dan kebahagiaan telah tahu waktunya yang tepat. Aku disini, ingin lebih dapat menerima hal itu.

Untuk dia, yang dengan mudahnya meninggalkan dan melupakanku dengan dunia yang baru (atau mungkin wanita baru?)
Untuk dia yang lain, yang dengan entengnya melupakan semua rasanya padaku dan berkelakuan seolah tidak pernah terjadi apapun. Dan kini bersiap pergi menjauh sejauh-jauhnya dariku.
Untuk dia yang lain lagi, yang dengan kurang ajarnya meminta ’sesuatu yang penuh’ kepadaku, padahal dia tidak pernah menganggapku ’penuh’ selayaknya.
Untuk dia yang lainnya lagi, yang dengan entengnya mengatakan sedang trauma untuk merajut kisah, dan dengan sombongnya menyuruhku untuk menunggu. Padahal dia dulunya yang berjanji untuk menungguku. Dia inilah yang suka ingkar janji.
Dan untuk dia-dia-dia yang lain. Yang tidak ingin aku jabarkan satu perdua pertiga perempat disini. Karena sungguh, aku sudah lelah dengan kalian semua.

Resapi rentetan kata penuh makna dalam lirik lagu satu ini.

I Will Remember You – Sarah McLachlan

I will remember you
Will you remember me?
Don’t let your life pass you by
Weep not for the memories

Remember the good times that we had?
I let them slip away from us when things got bad
How clearly I first saw you smilin’ in the sun
Wanna feel your warmth upon me, I wanna be the one

I will remember you
Will you remember me?
Don’t let your life pass you by
Weep not for the memories

I’m so tired but I can’t sleep
Standin’ on the edge of something much too deep
It’s funny how we feel so much but we cannot say a word
We are screaming inside, but we can’t be heard

But I will remember you
Will you remember me?
Don’t let your life pass you by
Weep not for the memories

I’m so afraid to love you, but more afraid to loose
Clinging to a past that doesn’t let me choose
Once there was a darkness, deep and endless night
You gave me everything you had, oh you gave me light

And I will remember you
Will you remember me?
Don’t let your life pass you by
Weep not for the memories

And I will remember you
Will you remember me?
Don’t let your life pass you by
Weep not for the memories
Weep not for the memories

Karena aku benar-benar akan mengingat kalian semua, wahai dia-dia-dia dan dia-ku yang lain.
Sebagai pelajaran atas apa yang tidak boleh aku ulangi lagi sepanjang hidupku.
Sebagai kekacauan sementara yang membuatku sempat ingin meledak.
Yang mengajariku dengan bijak dan naif, bahwa CINTA DAN KEBAHAGIAAN TELAH MEMILIH WAKTUNYA SENDIRI.

Senin, 04 April 2011

Bukan Buronan, Bukan Polisi

...

"Bagaimana keadaanmu?", Aku menanyakan hal bodoh yang tidak seharusnya aku tanyakan. Aku tahu, kamu tidak suka dengan keadaan yang kita harus hadapi selama kurang lebih 3 jam ini. Tapi aku menanyaimu karena sungguh aku peduli.
"Aku mencoba untuk baik-baik saja. Ini tidak selamanya kan?", kamu menjawab dengan muka khas bad mood mu yang sudah aku hafal.
"Baiklah, yah, untungnya ini tidak selamanya. Kau akan baik-baik saja", Aku mencoba menghiburnya sedikit agar perasaannya sedikit ringan.
Mobil tetap melaju kencang di jalan rusak yang berkelok. Kiri dan kanan adalah jurang. Untungnya, kita berkendara malam. Tidak terlalu menakutkan bila melihat pemandangan dari kaca samping mobil. Angin berhembus dari kaca yang ku buka sedikit.

Aku tidak tahu bagaimana kita memainkan peran kita masing-masing disini. Kamu tetap manis seperti biasanya. Dan aku merasakannya sebagai siksaan. Aku harus menahan diriku untuk tidak menikmatimu lebih dari yang seharusnya. Sebelum perjalanan itu, aku juga melihatmu memandang seperti itu kepadaku. Pandangan sayang yang penuh siksaan. Aku tahu, suatu saat, hal ini pasti menjadi netral dan diantara kita tidak ada perasaan itu lagi.

Dan hal itu nampaknya terjadi hari ini. Nampaknya kamu sudah tidak terguncang atas perasaanmu sendiri. Kamu sudah ikhlas melepasku. Dan sepertinya kamu juga mengharapkan aku melakukan hal yang sama.
Untuk kamu tahu, Tidak ada yang akan aku sesali. Aku menikmati kisah singkat ini. Dan aku juga menikmati untuk melihatmu hanya sebatas punggung saja. Aku menyadari kenyataan, aku tidak bisa menikmati keutuhanmu.

Hari ini, aku memutuskan berhenti. Berhenti saja. Seperti kamu.
Tidak ada yang harus dikejar lagi. Karena kamu bukan buronan. Dan aku bukan polisi.
Kita hanya perlu menegaskan apa yang ada di depan kita sekarang. Tidak akan ada lagi hubungan lebih dari teman.

Aku tidak mau tahu lagi dengan perasaanmu. Entah perasaanmu yang tertahan itu, atau perasaan terang-teranganmu ketika melihatku.
Dan aku juga akan menegaskan pada diriku sendiri. Bahwa kamu bukan piala untuk dipamerkan. Bahwa kamu bukan boneka yang bisa aku mainkan sesuka hatiku. Bahwa kamu bukan buronan dan aku bukan polisi intel yang harus mengejarmu ke ujung dunia sekalipun. Bahwa kamu punya kehidupanmu sendiri yang harus kamu jalani setelah ini. Dan bahwa aku juga mempunyai mimpiku sendiri untuk aku kejar. Dan masih banyak bahwa-bahwa yang lain perihal perasaanku kepadamu.

Bahwa kamu tidak sama dengan aku.

...
Tidak ada yang salah akan kisah singkat ini. Karena bagiku hidup adalah dark chocolate. Manis dan pahit di saat yang sama. Begitulah caraku menikmatimu.

Kelak, aku meyakini, akan ada pertemuan kembali kita berdua. Entah kamu yang mendatangiku, ataupun sebaliknya. Karena dengan semua yang telah kita lalui bersama, aku yakin ada suatu hal yang masing-masing dari kita tidak akan pernah kita lupakan. Bahwa sempat ada perasaan yang kemudian harus tertahan. Yang tertahan dan akan 'aktif' kembali suatu saat nanti. Entah kapan.

Kamu memicingkan mata di kamera DSLRmu, bersiap mengambil gambar yang aku rasa itu aku. Aku tersenyum melihat ke lensa kamera.
Sesaat kemudian kamu menggumamkan sesuatu di bahasa lain yang tidak aku mengerti.
"Apa yang kamu katakan tadi?", aku bertanya karena aku sangat penasaran.
"Hmmm, bukan apa-apa", kamu tidak memberitahuku.
"Ayolah, beritahu aku...", kataku setengah memaksa.
"Tidak.. ", katamu sambil tersenyum nakal.
Aku memukulmu kecil dan aku yakin itu tidak menyakitimu. Kamu melindungi badanmu dengan tanganmu. Dan tangan itu yang akhirnya aku pukul-pukul kecil.
"Apakah sesuatu itu hal yang buruk atau hal yang baik?", pertanyaanku mulai menampakkan keputus asaan.
"Tentu saja sesuatu yang baik. Tentangmu", kamu menjawab dengan senyuman diiringi deburan ombak di salah satu tempat yang paling aku suka, Laut.

Aku sangat menyukai senyuman itu. Dan juga keakraban kita. Tentu saja itu hal pertama yang aku ingat tentangmu. Satu diantara banyak detil kecil yang akan selalu aku ingat tentangmu.
Tahukah kamu, saat percakapan itu, di tengah deburan ombak dan laut yang memecah karang, aku sangat ingin memelukmu.
Dan berkata, "Ingatlah selalu saat ini"





Dan deru ombak di hatiku perlahan melemah.
Selamat tinggal.