Kamis, 12 Februari 2015

Tuhan yang Maha Asyik (Part 1)

Tuhan memberiku feeling yang kuat tentang beberapa hal, dan anehnya, sekaligus sekaligus memberiku feeling yang buruk tentang beberapa hal lainnya. Dan pada feeling itulah, Tuhan, dengan caranya yang asyik, berkomunikasi denganku.

Dengan caranya yang misterius, Tuhan sering memberiku feeling yang kuat tentang tempat dimana aku akan berjodoh.
Seperti ketika aku memilih sekolah.
Sejak SMP hingga detik ini, mama dan papa selalu membebaskan aku memilih tempat yang aku inginkan dalam berproses.

Masih ingat sekali aku ketika dengan menggebu - gebu mendaftar di SMPN 12 Surabaya dan menempatkannya di urutan pertama prioritas tes masuk SMP Negeri waktu itu. Mendaftar pun, aku nggak mau datang ke SMPN 13 yang seharusnya lebih dekat dengan rumah (Hal yang dianjurkan ketika percobaan sekolah kawasan berdasar rayonisasi kala itu). Aku lebih milih ngajak mama daftar ke SMPN 12 yang jauh dan daerah sekitarnya kurang kami kuasai. Di siang bolong naik motor bareng mama dan Sakti, aku datang untuk mengambil formulir pendaftaran. Berjubel dengan calon murid dan calon wali murid yang lain. Kala itu, feelingku masih belum menunjukkan tanda apa - apa. Tapi ketika selang 3 hari berikutnya, mama memutuskan mengajakku "mampir" ke SMPN 13 yang merupakan pilihan keduaku setelah SMPN 12 dan sekaligus mantan sekolah mama ketika SMP dulu, aku baru bisa merasakan Tuhan menunjukkan 'sesuatu' padaku. Sempat merem sedikit ketika turun dari sepeda motor, aku berjalan sampai hampir nabrak sepeda penjual pentol yang ada di halaman sekolah kala itu. Dalam benakku ketika sekitar sepersekian detik aku merem tadi adalah ada bayangan aku akan berlarian di halaman itu dan beli pentol di bapak itu nantinya. Lengkap dengan baju seragam putih biru, Tuhan memberitahukan padaku, kalau hampir 90% aku pasti akan bersekolah disana. Dan benar saja, aku diterima di SMPN 13 Surabaya.

Tidak jauh berbeda dengan SMA dulu. Mama menyarankanku mendaftar di SMA kompleks atau setidaknya SMA yang ada di tengah kota seperti, SMAN 4 Surabaya. Mama pengen aku dapat pendidikan yang terbaik. Tapi papa bilang, lebih baik mencari sekolah SMA yang bagus dan dekat rumah. Supaya nggak capek di jalan. Setelah tanya sana - sini, ternyata ada sekolah bagus dekat rumah yang sudah bertaraf internasional, SMAN 15 Surabaya. Pilihan keduaku kala itu adalah SMAN 16 dan berikutnya SMAN 17. Dilihat dari jarak, semua SMA tadi nggak terlalu jauh dari rumah, kualitasnya pun bagus. Tapi lagi - lagi Tuhan memberitahukan rencana misteriusnya dengan kelebatan bayangan - bayangan aneh. Hal yang sama terjadi lagi ketika aku datang untuk mengisi formulir di SMAN 15 Surabaya. Koridor sekolah itu yang panjang dan rindang penuh dengan kursi di kanan kirinya, tiba - tiba membuatku membayangkan sedang berjalan di sekolah itu menggunakan seragam putih abu - abuku. Dan ketika melihat lapangan basketnya, aku tiba - tiba berpikir, sepertinya aku akan banyak menghabiskan waktu di tempat itu. Ternyata, semua yang aku bayangkan, bukan khayalan belaka. Seperti de javu, akhirnya setelah diterima disana, aku merasa melakukan berbagai hal yang sebelumnya sudah pernah aku lakukan. Di tempat ini pula, aku mendapat banyak sekali kesempatan bagus, yang memberiku banyak pengalaman tidak terlupakan sepanjang hidupku. Jadi siswa baru yang diospek dengan seru, jadi pengurus OSIS, panitia banyak acara keren, sampai akhirnya mengenal banyak orang keren dan kepilih jadi ketua OSIS benar - benar bukan hal yang bisa didapat semua orang. Benar kata banyak orang, masa SMA adalah masa yang sulit dilupakan.

Tapi nggak ada yang bisa ngalahin betapa anehnya rencana Tuhan masukin aku ke Sastra Jepang Universitas Airlangga. Dari awal aku lahir, mungkin aku nggak pernah ngebayangin bakal berkutat dengan abjad yang melungker nggak jelas dan menghafalkan berbagai arti dari kata yang aku nggak pernah tau sebelumnya. Masuk Sastra Jepang merupakan sebuah kebetulan yang benar - benar nggak pernah aku bayangin.
Berawal dari kegagalanku masuk di Jurusan Hubungan Internasional dan Jurusan Komunikasi yang aku pengenin dengan sangat pas jalur SPMB Prestasi, aku tiba - tiba banting setir ambil sastra. Sempat terpikir ngambil Sastra Inggris, tapi aku berpikir "aku nggak bakalan tertantang karena terlalu mudah" (Songongnya minta ampun). Dengan pertimbangan tantangan belajar, aku akhirnya memilih Sastra Jepang Unair dan Sastra Perancis UB. Sebelum pengumuman SNMPTN, aku sempat mendaftar melalui jalur prestasi di Sastra Inggris Unesa dan diterima. And i never felt like home in Unesa. Pas daftar ulang di Unesa (Untuk memastikan kursi mahasiswa untukku sudah booked), aku sempat memberitahu mama untuk pake uang daftar ulang untuk jalan - jalan beli baju di mall saja. Tapi nggak jadi, gara - gara mama nakut - nakutin aku kalo - kalo aja aku nggak keterima SNMPTN. Besoknya pas pengumuman SNMPTN, Tuhan menetapkan aku berkuliah di Sastra Jepang Unair.

Dua semester awal, aku bener - bener ngerasa salah banget kuliah di Sastra Jepang ini. Selain sulit mengejar teman - teman lain yang rata - rata sudah pernah dapet pelajaran bahasa Jepang pas SMA dulu, aku juga merasa kesusahan memahami pelajarannya. Sebagai pelampiasan atas 'nasi sudah menjadi bubur', akhirnya aku ikut berbagai jenis organisasi untuk meneruskan hobby ketika SMA dan juga menyalurkan kesibukan juga.

Itu adalah sedikit cerita tentang Tuhan yang asyik banget.
Lanjut kapan2 yaa~ :)
Stay tune :p

Tetap Tersenyum di Tengah Badai

Akhir2 ini (lebih tepatnya beberapa bulan terakhir) jadi jarang nulis.
Kebiasaan buruk yang nggak boleh diterusin sih.
Akhir2 ini juga banyak badai tsunami angin ribut puting beliung gempa bumi yang lagi ngetes kekuatan hatiku. Lebay amat sih yak? Hahahaha

Yang jelas lagi banyak masalah menghantam di tengah segala kesibukan dan beban yang nggak bakalan aku persalahkan siapa dan kenapanya, hehe. Toh manusia hidup kalo ga banyak masalah ya namanya bukan hidup. Kalon banyak cucian ya namanya laundry. Hahahaha.

Kalian yang baca ini, pernah ngerasain nggak sih, saking nyeseknya sampe nggak bisa nangis.
Saking sedihnya sampe nggak bisa sedih lagi. Emang bener kata Dee, kalo udah melampaui suatu hal, bisa jadi kita mati rasa lagi setelahnya.
Aku sudah biasa punya haters sejak dulu dan aku sudah terbiasa mengabaikan mereka.
Di urusan pekerjaan sekalipun. Kalo aku terus2an ngikutin apa maunya orang, kapan aku ngikutin apa mauku sendiri. Iya kan?

Bahkan sekarang, di saat ada berbagai beban yang menuntut untuk diselesaikan, aku bahkan nggak diijinkan untuk menikmati hobby(sekaligus pekerjaanku) dengan aman dan nyaman.
Entahlah apa yang mereka pikirkan, aku nggak pernah tahu dan nggak pernah mau tahu.
Yang aku tahu cuman karma does exist. 
Kalo emang aku sekarang dapat perlakuan kayak gini, mungkin dulu aku pernah melakukan sesuatu yang buruk ke orang lain.
I wont blame anyone for this situation.

Yang aku tahu,
Tuhan sedang berusaha menyelamatkan aku dari lingkungan buruk.
Entah aku menjadi semakin kuat jika bertahan disini.
Atau
bahkan aku jadi menemukan tempat dengan lingkungan yang baik.
Aku nggak pernah tahu.

Sekali lagi, Makasih dee. Udah kasih tau aku sesuatu yang bener2 selalu aku inget sampe sekarang.
Setiap pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu yang dibutuhkan hanyalah waktu.