Kamis, 30 Desember 2010

Panu dan Cinta itu Beda Tipis :D


Akhir-akhir ini, di sekitarku sedang banyak orang yang tertancap panah sang cupid. Yes, most of people around me are falling in love. Setelah salah satu teman dekatku yang udah lama jomblo jadian dengan cowok yang sudah lama menyukainya, pasangan - pasangan yang lain pun bermunculan. Mirip kayak jamur di musim panu. Dimanapun penuh dengan pasangan baru yang lagi mesra-mesranya (mesran = merek oli motor). Rasanya sulit mengalihkan pandangan dari mereka. Pengen rasanya ngerasain juga apa yang mereka rasain. Love is the most wonderful feeling in this world, i think.

Nah,
persoalannya adalah : aku barusan aja putus.
Dan intinya adalah : dari sudut mana aku memandang persoalan ini.
Memadukan perasaan agak sedih ini dengan rasa senang ngeliat euforia orang baru jadian..

Dan kali ini kita umpamakan orang-orang yang baru jadian itu adalah panu.
ada beberapa sudut pandang yang memungkinkan.
pertama : sudut pandang orang yang kena penyakit panu.
kedua : sudut pandang orang yang punya pabrik obat panu.
ketiga : panu itu sendiri.

sudut pandang pertama (orang yang kena penyakit panu) bakalan sebel banget kalo sampe ngeliat panu itu. Nah, dihubungkan ama persoalan yang tadi. Si orang dengan sudut pandang ini... mari kita sebut dia dengan PANUERS.
Apa yang akan dilakukan panuers bila ngeliat banyak orang pacaran di sekitarnya padahal dia lagi jomblo?
Panuers bakal ngerasa suebel, bingung mikirin gimana caranya biar 'panu-panu' itu ilang, dan panuers pasti bakal keliatan pathetic banget.. menyedihkan..
Orang dengan tipe panuers ini kemungkinan adalah orang yang penuh dengan sifat iri dengki, negative thinking dan ga bisa liat orang lain seneng. Yang dia lakuin cuma iriii aja, tanpa berusaha memahami perasaan orang lain yang lagi suka cita menemukan cintanya.

sudut pandang orang kedua (Yang punya pabrik obat panu) pasti bakalan jejingkrakan ga tau malu tiap liat satu oraaang aja tervonis kena panu. Mari kita sebut golongan ini dengan DUKUNERS.
Bukan berarti orang ini oportunis yang cuman mau untungnya aja. Dukuners ini seneng banget ngeliat panu, karena bukan cuman untung duniawi aja yang dia dapet, tapi keuntungan rohaniah juga bakal dia dapet ketika ngeliat orang yang kena panu sembuh. Secara tidak langsung, dukuners ini pasti bakal seneng kalo ada temennya yang juga seneng.
Dukuners ini tipe orang yang easy going, seneng liat orang lain seneng, entah itu seneng karena temennya seneng ato seneng karena dapet traktiran :p
Dukuners ini jeleknya, kadang-kadang terlalu positive thinking sampe2 nggak mikirin kebahagiaannya sendiri. Dukuners juga kadang2 suka sok tau. hehehe

Sudut pandang ketiga adalah PANU itu sendiri. Mari kita sebut dia dengan THE PANU.
the panu ini tidak lain tidak bukan tidak mungkin tidak adalah orang yang jadian itu sendiri.
Kadang disadari ataupun tidak, orang-orang yang baru jadian itu terlalu show off ama orang lain. nggak mikirin gimana perasaan yang ngeliat. emang sih, seneng sih seneng. mau mesra2an dimana, tinggal menclok aja. tapi hey, watch out, nggak selamanya kamu bakal jadi panu. suatu saat the panu ini juga bisa aja ngalamin nasib jadi panuers ato dukuners kan. who knows? hehehe..

itulah sedikit telaah ilmiahku tentang dunia perpanuan yang dikaitkan dengan sangat briliannya dengan masalah pacar-pacaran.
aku tau, aku jenius.

dan setelah tahun 2009 kemaren aku mengalami fase menjadi THE PANU,
Taun inilah aku ngerasain gimana rasanya jadi PANUERS dan DUKUNERS.
Jadi panuers ga selamanya buruk kok. malah panuers bisa menjadi kontrol tidak langsung buat the panu yang mau show off nggak tau diri gitu. Buruknya, panuers dikit agak muna' dan ga bisa menikmati hidup dengan aman, tentram dan bahagia.
Jadi dukuners adalah yang sekarang ini lagi aku rasain dengan mahadahsyatnya.
Rasanya seneng banget ngeliat pancaran sinar mata orang yang lagi di fase the panu. cuman ngeliat aja rasanya bisa ikut kebagian. Jeleknya sih, dukuners ini kadang-kadang nggak ngerasa dan kadang-kadang nyembunyiin kalo dia sebenernya lagi butuh belaian juga. hehehe.

dan beginilah aku sekarang,
nyoba jadi panu, tapi kayaknya nggak taun ini.
2011 ajaaaa dehhh jadi the panu nya...
hihihi... :D

GOODBYE 2010 : IT WAS GREAT TO KNOW YOU
WELCOME 2011 : I WOULD LOVE TO MEET YOU SOON

eh ujan turun..
terima kasih Tuhan, sudah memberi hujan di malam yang dingin ini.
sehingga keinginan menangisku bisa aku tahan dan aku lupakan.
:)

Sabtu, 25 Desember 2010

Amnesia

"Hey...", sapaku kepadamu.
Tidak ada balasan.
"Haloo.. kamu yang ada disitu..", panggilku lagi.
Tidak ada sahutan.
"Hei hei...iya, kamu yang disitu, aku ngomong sama kamu..", kali ini sapaku sedikit memaksa.
Kau tetap tidak menoleh.

Dengan terengah-engah, aku memutuskan untuk menyimpan saja sejuta sapaan untukmu yang telah lama aku pendam. Setelah hari kamu meninggalkanku. Tidak hanya dirimu yang pergi, separuh hatiku juga ikut pergi. Lenyap pergi bersama angin yang membawamu pergi kala itu.

Beberapa hari yang lalu, kamu telah kembali. Kembali kemana seharusnya kamu berasal dan kembali bermuara. Tapi tidak dengan cintamu. Tidak dengan hatimu. Tidak dengan semua kenangan kala itu. Entah dimana kamu meninggalkannya. Sepertinya kamu sudah tidak lagi mengingatnya.

Bahkan sepertinya kamu akan kembali lagi pergi, tanpa mengucap perpisahan apapun kepadaku. Seperti yang dulu pernah kamu lakukan. Akankah kamu lakukan sekali lagi?

Entah, pengecut sekaliber apakah yang sekarang bersarang dalam pemikiranmu. Bahkan untuk memutuskan mata rantai penantian ini kau tidak sanggup. Haruskah aku yang bertindak lagi? Baiklah. Semuanya memang dan sepertinya harus terjadi seburuk ini.

Padahal,
Sungguh aku tidak ingin memperburuk keadaan ini.
Pertemuan yang berawal dengan baik, harusnya diakhiri dengan baik pula.
Tapi, bahkan akhir yang baik pun sepertinya tidak terpikirkan di skenario otakmu.

Semuanya sudah berada di ujung dimana semuanya harus dieksekusi. Seperti ketika Christopher Columbus memutuskan di tanah mana harus berpijak. Seperti ketika Adam dan Hawa memutuskan memakan buah khuldi. Ketika malaikat kematian memutuskan untuk mencabut nyawa manusia.

Bukan lelah yang aku rasakan. Hanya hampa yang terus menerus menghantui. Amnesiamu kali ini benar-benar membuatku terluka.
Terima kasih atas luka yang telah mencabikku berkali-kali. Termasuk saat ini.
Terima kasih pula atas pertemuan tanpa perpisahan ini.
Terima kasih telah mengajariku untuk mencintai tanpa ego.
Keikhlasan inilah yang akan terus aku jaga. Bukan cintaku.
Maaf.

25 Desember 2010.
00:45

Dan inilah lagu yang pas untuk menggambarkan perasaanku sekarang..

"White Horse" 
by Taylor Swift

Say you're sorry
That face of an angel
Comes out just when you need it to
As I paced back and forth all this time
Cause I honestly believed in you
Holding on
The days drag on
Stupid girl,
I should have known, I should have known

[Chorus]
I'm not a princess, this ain't a fairy tale
I'm not the one you'll sweep off her feet,
Lead her up the stairwell
This ain't Hollywood, this is a small town,
I was a dreamer before you went and let me down
Now it's too late for you
And your white horse, to come around

Baby I was naive,
Got lost in your eyes
And never really had a chance
My mistake, I didn't know to be in love
You had to fight to have the upper hand
I had so many dreams
About you and me
Happy endings
Now I know

[Chorus]
I'm not a princess, this ain't a fairy tale
I'm not the one you'll sweep off her feet,
Lead her up the stairwell
This ain't Hollywood, this is a small town,
I was a dreamer before you went and let me down
Now it's too late for you
And your white horse, to come around

And there you are on your knees,
Begging for forgiveness, begging for me
Just like I always wanted but I'm so sorry

Cause I'm not your princess, this ain't a fairytale
I'm gonna find someone someday who might actually treat me well
This is a big world, that was a small town
There in my rearview mirror disappearing now
And its too late for you and your white horse
Now its too late for you and your white horse, to catch me now

Oh, whoa, whoa, whoa
Try and catch me now
Oh, it's too late
To catch me now

Selasa, 21 Desember 2010

Air Mata Penantian

6 bulan bukan waktu yang singkat bagiku untuk dengan sabar begini menunggumu. Peringatan tentang air mata ini memang sudah datang bahkan sebelum kamu pergi. Tapi aku tidak peduli. Yang aku tau, hanyalah ketika cinta berpadu dengan kesetiaan yang ada hanyalah hati ini tidak akan bisa lebih lunak daripada karang lautan.

Kesempatan ketika aku dapat bertemu denganmu kala itu, menghapus semua harapan-harapan yang aku pikir akan melunakkan kembali batu karang di hatiku. Tapi nyatanya, aku sudah seperti tidak mengenalimu lagi ketika itu. Entah, hatimu sudah teracuni oleh apa, aku tidak tau.

Lalu sekarang harus bagaimana lagi? Tetapkah aku harus menunggu tanpa kepastianmu lagi?

Dulu, kamu mengatakan, akan membiarkan aku pergi bila ketika kamu pergi, aku menemukan lelaki lain yang bisa menggantikanmu. Tapi tidak ada yang bisa menggantikanmu. Lelaki-lelaki itu dapat mengobati lukaku, namun tidak bisa menghilangkan bekas lukaku.

Tidak ada manusia yang sempurna. Aku pun juga melihat laki-laki itu seperti itu. Cara yang sama seperti aku melihatmu dulu. Kamu yang dulu, yang datang dengan senyuman lebar, menawarkan hatimu dan hatiku untuk disatukan. Tapi tidak, aku tidak melihat senyuman lebar di antara lelaki-lelaki itu. Mereka membawa sisi gelap mereka masing-masing, dan yang mereka minta adalah aku mengobati kegelapan mereka. Aku belum bisa melakukan itu, bahkan sekarang pun aku masih serapuh sebelum bertemu denganmu dulu. Seperti boneka porselen yang telah jatuh, disatukan lagi, dan kemudian jatuh lagi. Aku sudah koyak berkali-kali.

Aku tidak menyalahkanmu akan keadaan ini. Tidak akan pernah. Karena memang inilah yang seharusnya terjadi dan harus kuhadapi. Yang aku yakin, bisa membuatku lebih kuat dan lebih kuat lagi.

Oh iya, diantara lelaki-lelaki lemah itu, aku menemukan satu lelaki yang aku bisa nyaman dengannya. Tapi entahlah, aku masih ragu. Sepertinya sikap manisnya tidak hanya diperuntukkan padaku. Dia juga begitu kepada semuanya. Tapi aku nyaman sekali dengannya, tidak ada yang aku tutup-tutupi darinya seperti ketika aku bertemu denganmu dulu. Satu hal yang membuatku tersentak adalah dia sama denganmu : suka memukul kepalaku ketika aku sudah berhelm. tapi dia tidak melakukannya berkali-kali seperti kamu melakukannya padaku. Aku rindu sekali saat-saat itu.

Tapi entahlah, aku masih menunggu kata-kata darimu. Entah untuk menghentikan semuanya, atau memperbaiki kembali. Aku harus siap dengan semuanya.

Yang aku inginkan hanyalah kamu dapat bahagia, dimanapun dan kapanpun kamu berada.

Senin, 20 Desember 2010

Tentang 'Petugas Sensus'

Petugas sensus itu datang kira-kira seminggu yang lalu.
Memberiku pelayanan selayaknya petugas yang bertugas menyensus penduduk.
Tapi anehnya, dia datang dengan data lengkap tentangku. Padahal, aku tidak pernah memberiku secuilpun keterangan tentang diriku. Belum, lebih tepatnya.
Terheran-heran, aku pun bertanya, "Darimana anda tau hal sebanyak ini tentang saya, padahal anda belum bertanya pada saya?"
Dengan wajah yang tegas dan tetap berpandangan lurus ke depan, "Saya telah mengetahui anda jauh lama sebelum ini. Saya sudah mengetahui apapun tentang anda dari apa yang telah tergambar di langit."

Dan pertanyaan saya pun berhenti sampai disitu. Saya merasa jawaban tersebut sedikit agak menyeramkan dan terkesan janggal, namun saya tidak berniat untuk menanyakan pertanyaan itu lagi kepadanya.
Hanya sedikit membatin, "Dasar petugas sensus yang aneh"

Tapi setelah kejadian yang aneh seminggu yang lalu itu, hubunganku dengan si Petugas sensus tidak hanya berhenti sampai disitu.
Kekagumanku padanya tidak pernah berhenti.
Dan sepertinya dia juga seperti itu.

Jalinan pertemananku dengan petugas sensus itu menjadi semakin jelas saja. Bukan hubungan antara petugas sensus dengan orang yang disensus lagi. Menghabiskan waktu bersama pun sudah sering sekali kami lakukan.

Tapi,
Aku merasakan ada yang janggal beberapa waktu yang lalu.
Ketika aku sedang menemaninya bertugas menyensus, aku mengetahui sesuatu. Kebetulan, yang sedang disensus adalah wanita janda yang cantik dan langsing. Sepertinya masih baru dia menjadi janda.
Ternyata, petugas sensus itu memperlakukan wanita janda itu sama seperti dia memperlakukanku beberapa waktu yang lalu.

Kecewa, itu saja yang aku rasakan.
tetapi aku tidak dapat berbuat banyak.
kenyataannya, aku dan dia hanya petugas sensus dan orang yang disensus saja kan?
tidak lebih.

tapi terima kasih, sudah menjadikan hari-hariku berwarna.
Jika petugas sensus itu berniat menjadikanku lebih dari sekadar "sasaran sensus", aku akan mempertimbangkan baik-baik tawarannya.
entahlah, hal-hal tentangnya selalu menarik minatku.

Rabu, 01 Desember 2010

Bunga Matahari : Penghormatan Terakhirku untuk Meita Nurdiansyah

Sebelum jiwamu terbang kesana,
Ijinkan aku untuk sedikit berbagi rasa,
Tentang apa yang pernah ada,
diantara kita
dan semuanya..

Ijinkan aku untuk memanggilmu dengan nama lain..
Nama yang entah terpikirkan begitu saja 
ketika aku mengingat semua tentangmu.

'Bunga Matahari'

......
iya,
itulah nama yang ingin aku sematkan kepadamu,
maaf tidak bisa langsung tersampaikan.
karena asa hanyalah harap..

tiada ruang lagi bagi kita untuk bercakap..
ketika tangan tidak dapat lagi meraih,
dan kita tidak dapat saling menyentuh..
Maka inilah yang dapat dilakukan..
menyimpan sinaran dan pancaran ceria
ala bunga mataharimu,
di hati kami semua disini..

Maaf atas segala khilaf
kami semua.
tentang khilafmu,
tenang saja,
semua sudah terhapuskan.

walaupun raga dan jiwamu telah tiada,
yakinlah..
'bunga matahari' itu akan selalu hidup
tumbuh subur merekah di hati kami

semoga apa yang dulu menjadi jiwamu,
pengabdianmu, spirit dan semangatmu,
bisa terus kami usung
ke puncak tertinggi.

You'll be in my heart always,
Meita Nurdiansyah..



Bagaikan petir di siang yang benar-benar brutal, ketika aku mendengar sayup-sayup suara di SC Sasjep, mengabarkan ketiadaanmu.
Semua pusing yang sukses membebani kepalaku karena tidur yang kurang nyenyak semalam, sirna begitu saja. Namamu disebut-sebut meninggal dunia.

Padahal kemarin malam, aku masih sempat sms kamu, untuk ijin aku tidak bisa ikut rapat lama-lama.
kali itu balasanmu singkat. hanya 'iy, gpp'
dan itulah, komunikasi tidak langsungku denganmu yang terakhir. 

Sebelum kamu pergi, ke tempat yang katanya sungguh indah dan damai. Meninggalkan hiruk pikuk dunia dengan segala kesibukannya. Meninggalkan kami semua disini, keluargamu, keluarga keduamu (Niseikai Aidai) dan kami tentunya, panitia-panitia Japanese World yang dulunya berada dibawah kendalimu.

Kali ini aku harus meminta pendapat ke siapa? Setelah kepergianmu yang sangat tiba-tiba ini? Tapi jangan terbebani, aku hanya sedikit menyesal, belum dapat membuktikan keyakinanmu ketika itu..
ketika aku bertanya, "Kenapa aku sih mbak yang dijadiin koor acara?? Ugh damn.. it's not that easy you know.. mbak meti, puhleaaaseee, think it twice..".
dengan gaya bicara yang sama lebaynya dengan aku, kamu menjawab, "Hey risda risda risda, hear me.. cuma kamu yang aku anggap bisaaa...auwkay??ya, kamu harus mau!oke, catat!"

sebegitu percayanya kamu denganku, dan aku belum sempat menunjukkan hasil kerjaku padamu?
sebegitu teganya kamu pergi begitu saja, dan tidak ada lagi yang bisa nandingin kelebaianku ngoceh kesana - kemari?
oh puhleaseee mbak meti, YOU GONE TOO SOON!!

Tapi tenang aja disana,
walaupun aku belum tau rasanya, tapi katanya disana semua damai.
nggak perlu lagi berpikir tentang kuis, IP ancur, KKN, PKL, JW, HIMA, atau apalah itu..

Mata yang selalu berbinar-binar,
baju bunga-bunga, jilbab terang menyala,
ocehan yang khas dan ceria,
tawa yang selalu menampilkan deretan gigi putih ala iklan pasta gigi..
kamu benar-benar tampak seperti bunga matahari bagiku.
walaupun sudah tidak bisa terlihat lagi semua itu.
tapi bunga matahari itu masih tetap akan aku simpan di dalam hati.
aku yakin, yang lainpun juga begitu.
meski cuma aku aja yang dengan kurang ajarnya bilang kamu itu mirip bunga matahari.

tentang JW, nggak usah kuatir mbakkk..aku udah janji bakal kasih yang terbaik, buat kamu khususnya..
dan aku juga udah janji, mau membantu Onyonk dan teman-teman yang lain..
spirit bunga mataharimu masih ada kok..
menancap kuat disini..

Tenang aja ya disana, mbak metiii...
yang matanya buesar belok, yang katamu kamu keturunan orang Tibet..
hehehehe..

aku akan merindukanmu sangat.
maaf semua kata-kata ini tertulis setelah kau tak lagi bisa membacanya.
tapi aku harap kamu bisa merasakannya.