Selasa, 21 Desember 2010

Air Mata Penantian

6 bulan bukan waktu yang singkat bagiku untuk dengan sabar begini menunggumu. Peringatan tentang air mata ini memang sudah datang bahkan sebelum kamu pergi. Tapi aku tidak peduli. Yang aku tau, hanyalah ketika cinta berpadu dengan kesetiaan yang ada hanyalah hati ini tidak akan bisa lebih lunak daripada karang lautan.

Kesempatan ketika aku dapat bertemu denganmu kala itu, menghapus semua harapan-harapan yang aku pikir akan melunakkan kembali batu karang di hatiku. Tapi nyatanya, aku sudah seperti tidak mengenalimu lagi ketika itu. Entah, hatimu sudah teracuni oleh apa, aku tidak tau.

Lalu sekarang harus bagaimana lagi? Tetapkah aku harus menunggu tanpa kepastianmu lagi?

Dulu, kamu mengatakan, akan membiarkan aku pergi bila ketika kamu pergi, aku menemukan lelaki lain yang bisa menggantikanmu. Tapi tidak ada yang bisa menggantikanmu. Lelaki-lelaki itu dapat mengobati lukaku, namun tidak bisa menghilangkan bekas lukaku.

Tidak ada manusia yang sempurna. Aku pun juga melihat laki-laki itu seperti itu. Cara yang sama seperti aku melihatmu dulu. Kamu yang dulu, yang datang dengan senyuman lebar, menawarkan hatimu dan hatiku untuk disatukan. Tapi tidak, aku tidak melihat senyuman lebar di antara lelaki-lelaki itu. Mereka membawa sisi gelap mereka masing-masing, dan yang mereka minta adalah aku mengobati kegelapan mereka. Aku belum bisa melakukan itu, bahkan sekarang pun aku masih serapuh sebelum bertemu denganmu dulu. Seperti boneka porselen yang telah jatuh, disatukan lagi, dan kemudian jatuh lagi. Aku sudah koyak berkali-kali.

Aku tidak menyalahkanmu akan keadaan ini. Tidak akan pernah. Karena memang inilah yang seharusnya terjadi dan harus kuhadapi. Yang aku yakin, bisa membuatku lebih kuat dan lebih kuat lagi.

Oh iya, diantara lelaki-lelaki lemah itu, aku menemukan satu lelaki yang aku bisa nyaman dengannya. Tapi entahlah, aku masih ragu. Sepertinya sikap manisnya tidak hanya diperuntukkan padaku. Dia juga begitu kepada semuanya. Tapi aku nyaman sekali dengannya, tidak ada yang aku tutup-tutupi darinya seperti ketika aku bertemu denganmu dulu. Satu hal yang membuatku tersentak adalah dia sama denganmu : suka memukul kepalaku ketika aku sudah berhelm. tapi dia tidak melakukannya berkali-kali seperti kamu melakukannya padaku. Aku rindu sekali saat-saat itu.

Tapi entahlah, aku masih menunggu kata-kata darimu. Entah untuk menghentikan semuanya, atau memperbaiki kembali. Aku harus siap dengan semuanya.

Yang aku inginkan hanyalah kamu dapat bahagia, dimanapun dan kapanpun kamu berada.

2 Comments:

aviv zaini mengatakan...

waduh mantap deh .....?..tingkatkan kreatifitasmu

Risda mengatakan...

aviv zaini : makasih ya... siaaapp, tingkatkan terus kreativitas.. :D

Posting Komentar

Katakan apa saja yang ingin kau muntahkan dari otakmu, setelah membaca tulisan di atas..