Jumat, 04 Juli 2014

Di Atas Langit, Masih Ada Langit

Terkadang kita harus ingat. Di atas langit masih ada langit.
Apa yang kita sedihkan. Belum tentu jadi kesedihan orang lain
Dan apa yang kita senangi. Belum tentu jadi kesenangan bagi orang lain.
Sekali lagi. Di atas langit, kita harus ingat, bahwa masih ada langit.

Setiap dari kita pernah seenaknya sendiri.
Berpikir bahwa setiap manusia itu sama.
Padahal bahkan setitik mikroba pun berbeda satu sama lain.
Dan aku hampir tiba pada titik pengertian ini.
Hampir. Belum sepenuhnya.

Aku bersyukur Tuhan memberiku orang – orang hebat di sekelilingku tumbuh.
Keluarga. Sahabat. Teman kerja.
Ah. Teman kerja.
Apa yang pernah kamu ketahui tentang teman kerjamu?
Aku baru saja mengetahui sesuatu tentangnya.
Dan aku hampir tidak dapat menahan haru tentang rahasianya.
Rahasia yang membuatku berpikir ulang.
Tentang susahnya hidup. Tentang rasa merana dan sengsara. Tentang rasa senang. Tentang cinta. Dan tentang ketulusan.

Dulu aku sempat memandangnya sebelah mata.
Secara fisik. Secara orientasi seksual. Dan secara attitude.
Semakin aku mengenalnya, ternyata dia tulus.
Apa yang dilakukannya jarang melukai hati orang lain.
Di saat itu aku mulai memaklumi fisik dan attitudenya.
Tapi baru kemarin.
Iya. Baru kemarin. Aku mengetahui fakta yang benar – benar bikin dadaku serasa diiris. Tertusuk. Pedih.

Mungkin ini apa yang dinamakan empati.
Dia bercerita dengan penuh kelakar. Penuh senyuman.
Seakan itu bukan beban hebat.
Padahal, aku tidak yakin sanggup ada di posisinya.

Berawal dari cerita tentang masalah pribadiku.
Aku menceritakannya seolah – olah aku orang paling sengsara di dunia.
Sampai kemudian dia mengawali cerita itu.
Dia bilang dia benci ayah tirinya.
Dia bilang ibunya terlalu nyaman dengan ayah tirinya.
Dan beliau rela memberikan apapun untuk tetap pada zona nyaman itu.
Dari sanalah cerita mengalir.
Tentang ayah tirinya. Tentang kesengsaraan ibunya.
Tentang derita pedih masa kecilnya. Tentang pengabdiannya pada seorang ibu.
Tentang cintanya pada seseorang. Tentang pengorbanannya. Dan tentang kondisi fisiknya yang sudah menua.

Dari sanalah, aku mendapatkan kekuatan untuk memahami.
bahwa di atas langit masih ada langit.
Apa yang kita kira sudah paling hebat, ternyata di luar sana masih ada yang lebih hebat lagi.
Apa yang kita kira paling menyedihkan, ternyata masih banyak di luar sana yang lebih menyedihkan lagi.

Sekali lagi.

Di atas langit, masih ada langit.

0 Comments:

Posting Komentar

Katakan apa saja yang ingin kau muntahkan dari otakmu, setelah membaca tulisan di atas..