Senin, 11 Juni 2012

Nasi Pecel dan Cinta yang Sederhana

11 Juni 2012, 21:37 WIB

Aku memutuskan untuk mampir ke pom bensin yang berjarak hanya lima belas menit menuju rumah. Bukan karena takut terburu-buru ketika besok berangkat ke kampus. Tapi aku ingin mendatangi suatu tempat. Tempat yang baru sekali aku datangi. Ketika itu bersamamu. Tempat itu....

26 Februari 2012, 20:29 WIB

Aku sedang berada di mobil, berbincang dan becanda dengan mbak Ajeng. Ya, Mbak Ajeng yang sama seperti di postku sebelumnya. Mbak Ajeng yang memberiku julukan 'Minoritas'. Teman kerjaku.
Kali ini, lagi-lagi kita menjadi partner. Hanya di event yang berbeda. Ini acara kompetisi drum, bukan acara penyuluhan air besar salah satu merek air mineral terkenal. Aku memang mengajak Mbak Ajeng karena mereka membutuhkan SPG.
Kami dalam perjalanan pulang. Tadi mereka menjemputku, penyelenggara acara itu cukup baik dengan menyediakan tumpangan untuk MC biasa-biasa sepertiku. Aku merasa cukup terharu, meskipun hal itu membuatku bertengkar dengan pacarku.

Kami sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Kami berempat. Aku, Mbak Ajeng, Mas Dian dan Mas Herman. Dua nama yang aku sebut terakhir adalah penyelenggara acara kompetisi drum itu. Ini adalah kali pertama aku membawakan acara kompetisi drum. Dan ternyata usut punya usut, kita sedang menuju ke tempat manajemen mereka untuk mengambil fee kami yang sedikit bermasalah.
Sangat menyenangkan dan sama sekali kami tidak keberatan untuk repot - repot ikut mereka mengambil fee di daerah Karangpilang, karena selain kami mendapat tumpangan pulang, kami juga sudah membayangkan fee yang akan kami terima. Lima ratus ribu rupiah untuk MC, dan tiga ratus ribu rupiah untuk SPG.

Mas Dian yang mengambil uang tersebut. Sedangkan aku, Mbak Ajeng dan Mas Herman menunggu di indomart yang ada di pinggir jalan. Konon kata mereka, orang yang akan kita datangi ini suka dengan Mas Herman dan betah berlama - lama berbincang dengannya. Karena ingin cepat pulang, Mas Dian sendirian yang mengambil uang fee kami.
Selama menunggu di indomart, aku dan Mbak Ajeng asyik berbincang sendiri. Mas Herman diam saja. Sibuk dengan handphonenya sendiri.
Sepulang dari mengambil fee, ternyata mereka memutuskan mengantar Mbak Ajeng pulang terlebih dahulu. Kemudian mengantarku.
Setelah mengantar Mbak Ajeng pulang, Kami bertiga mampir ke sebuah warung yang berada tidak jauh dari pom bensin yang hanya 15 menit menuju rumahku.

Mas Herman jarang makan makanan seperti Nasi Pecel. Karena dia sepertinya sedang ngidam akhirnya kita memilih warung pecel tersebut. Aku belum pernah makan disana, apalagi mereka berdua. Kami memilih nasi pecel dengan lauk - lauk yang kami suka. Yang paling aku ingat adalah Mas Herman terheran - heran dengan lauk ikan Pe yang dipesan Mas Dian. Aku tertawa - tawa melihatnya makan ikan Pe. Lucu sekali, aku menyaksikan live orang yang pertama kali makan ikan Pe. Hampir saja aku ingin mengatakan bahwa ikan Pe itu adalah salah satu jenis ikan yang katanya merupakan ikan jelmaan gadis, karena sebulan sekali mengeluarkan darah seperti darah mens. Tapi aku batal mengatakannya. Takut selera makan mereka, terutama Mas Herman lenyap. Hahahaha, aneh sekali lelaki gendut itu.

11 Juni 2012, 21:47 WIB

Aku masih ingat betul letak warung nasi pecel sederhana itu. Tidak jauh dari pom bensin dan warung bakso Pak Sabar. Ya aku ingat betul. Tapi kenapa ketika tadi aku melambatkan laju motorku untuk mencari warung pecel itu, tidak aku temukan?
Aku mencarinya dengan cermat. Memang ada sebuah warung yang menjual pecel dan rawon, tapi sedang tidak buka.

Aku tidak ingin hanya memakan nasi pecel itu. Aku ingin mengingat pertama kali aku datang kesana, bersama dengan dia dan temannya, terheran - heran melihat dia yang ternyata baru pertama kali makan lauk ikan Pe, terkagum - kagum melihat orang yang memandang nasi pecel seperti makanan mewah yang benar - benar mahal dan jarang ditemui. Aku ingin sekali lagi mengingat sinar di mata itu. Sinar mata yang mungkin tidak akan aku lihat lagi.

Sinar mata yang telah pergi jauh meninggalkan perih.
Tidak hanya perih untukku, Namun aku juga yakin, perih untuknya.
Pria terkasihku yang datang dan pergi dalam waktu yang singkat.
Tidak lebih dari 5 purnama, Namun dia sudah memberiku pengalaman seumur hidup.
Tidak akan terlupakan.
Sinar mata yang jenaka itu.
Raut senyum karena melihat nasi pecel dan ikan Pe.
Tertawa lugas karena kebahagiaan yang sederhana.
Karena mencintaimu juga dengan sederhana.

Kuberi kau sepasang sayap, dan kubiar lepas. Begitulah, sebaik - baik aku mencintaimu, Reh.
:)

0 Comments:

Posting Komentar

Katakan apa saja yang ingin kau muntahkan dari otakmu, setelah membaca tulisan di atas..