Sabtu, 03 Juli 2010

Aku Ingin Bersinar Seperti Bulan Malam Itu

2 Juli 2010,

Malam itu pulang sedikit larut. Ada sedikit bincang-bincang yang serius tapi santai tentang AD ART NISEIKAI AIDAI (Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang FIB Universitas Airlangga) di Student Centre kampus.

Sebelumnya..

Hari itu berlangsung sangat melelahkan.
Setelah menempuh Ujian Akhir Semester Kaiwa (Percakapan) yang sangat menakutkan, dimana ketika itu aku kebagian scene tentang "Byoki" atau "Falling Ill". dan aku berhasil mengelabui teman sekelompok untuk menjadi peran sebagai yang sakit saja, agar tidak banyak melakukan percakapan. hahaha. XD~~ dan akhirnya aku berhasil melewati scene dan mengisi lembar hidupku dengan coretan tinta tebal, karena sensei yang mengampu mata kuliah tersebut memberiku motivasi agar terus semangat kuliah, beliau juga memberitau tentang progressku semester ini.

seketika itu,

rasanya aku ingin menulis lembaran hidup hari itu dengan tinta spidol warna-warni dan ingin rasanya loncat-loncat kegirangan karena ternyata usaha mati-matianku satu semester ini dapat terlihat juga oleh Nunuk Sensei.

Setelah Ujian hari itu,
aku hanya duduk-duduk di beranda depan Student Centre (SC). Mengisi lembaran buku Basic Kanji yang harus dikumpulkan ketika UAS kanji Senin nanti. Waktuku tinggal sedikit lagi untuk menyelesaikannya.
di tengah-tengah menulisi buku kanji yang sangat membosankan itu, salah satu senpai (senior)ku yang bernama mbak Anis, nimbrung ngajakin ngobrol.
kita sempet ngobrolin pemilihan ketua Monitoring Kepemimpinan beberapa waktu lalu, yang entah mengapa, berdasarkan voting mereka memilih aku.
baru aku tau, ternyata kunci mengapa aku bisa terpilih berada di pertanyaan terakhir yang dilempar oleh ketua himpunan mahasiswa, mas Wawan.

Pertanyaan Maut itu adalah : "Apabila di tengah-tengah persiapan acara, acara berjalan melenceng dari ketentuan Hima, Apakah kalian bersedia diberhentikan dari jabatan sebagai ketua panitia MK 2010?"

Ketiga kontestan yang lain menjawab dengan tegas : "Tidak Bersedia"

Namun aku,
berdasar pengalaman-pengalaman terdahulu ketika SMA,
aku menjawab : "Bersedia"

ternyata disitulah letaknya.
kebersediaan kita untuk diberhentikan merupakan bentuk tanggung jawab juga.
karena jabatan diatas ketua panitia adalah penanggung jawab, yaitu ketua himpunan mahasiswa,yang harus mempertanggungjawabkan semua yang telah kita lakukan atas acara tersebut.dan apabila yang kita lakukan salah ataupun melenceng dari ketentuan yang berlaku, maka kita harus siap diberhentikan.

Hal ini tidak kusadari sebagai bentuk dari "TANGGUNG JAWAB" or we usually called it "RESPONSIBILITY".

Setelah itu,
aku terlibat pembicaraan dengan mas Wawan, sebagai ketua Himpunan Mahasiswa tempat aku bergabung sebagai pengurus, untuk meminta ijinnya untukku menjadi panitia Ospek Fakultas (namanya tahun ini : BRADANAYA) yang digawangi oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Ilmu Budaya, tempatku telah kuliah 2 semester ini.
Namun, jawaban apa yang aku dapat??
aku mendapat jawaban teramat kethus (rude) : "Kamu boleh jadi panitia BRADANAYA kalau semua tugasmu di Nakayoshi Naito (aku sebagai sekertaris) dan Monitoring Kepemimpinan (aku sebagai ketua panitia) sudah SELESAI"

"what the hell!"
"Mas Wawan FUCK!!"
"Mana bisa??"
"Itu impossible, IDIOT!!"

kata-kata itulah yang spontan terlintas di batinku sesaat setelah jawabannya yang kethus itu terluncur sedemikian rupa dari mulutnya, setelah melewati pipinya yang gembul.
nggak sopan, yah.. bener-bener kurang ajar dan aku merasa dia amat egois.
sampai akhirnya pembahasan perubahan AD ART Hima malam itu berakhir.

Mas Wawan mendudukkan aku di beranda itu.
di tempat yang sama, ketika siang itu aku belajar tentang "Responsibility" bersama mbak Anis.
Bersama mbak Pipit, mas Wawan mengemukakan alasan yang sebenarnya mengapa dia tidak mengijinkanku ikut andil dalam BRADANAYA tahun ini.
sangat sangat masuk akal dan aku terenyuh mendengarnya.

lagi-lagi hari itu aku belajar sesuatu.
sesuatu yang belum pernah aku dapat sebelumnya.
tentang "bagaimana kita menempatkan diri atas sesuatu"
-hal yang tidak bisa aku bahas lebih lanjut disini karena takut mengundang adanya kesalahpahaman dengan pembaca tulisan ini nantinya-

begitulah.
malam itu, aku pulang larut malam, dan melihat bulan berbentuk 3/4 yang terang benderang, bersinar sombongnya dikelilingi hamparan langit berwarna biru tua yang sangat mengagumkan.
aku sampai hampir meneteskan air mata.
walaupun bentuknya tidak bulat utuh, namun sinar dan keberadaannya membuatku sangat terpesona melihatnya.

dan dalam hati aku berbisik lirih,
"Aku ingin bersinar seperti bulan malam itu,
walaupun tidak utuh,
tapi sinar dan keberadaannya disana
membuat orang yang memandangnya melirik dua kali
kemudian berdecak kagum
aku juga ingin seperti itu,
walaupun aku tidak sepenuhnya sempurna,
aku ingin kemampuan dan eksistensiku
membuat orang lain bahagia dan merasa tertolong"


hanya itu.
terima kasih.

3 Comments:

hawkson mengatakan...

haha..
Tulisannya bagus2..
Salam kenal ya... :)

Risda mengatakan...

makasih mas hawkson..
blognya mas hawkson juga bagus2..baru2 ini saya minat ama sci-fi2 gitu..palagi pas buka2 kaskus,,terus nemu blognya mas,,
keep writing :)

cewek foto mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

Katakan apa saja yang ingin kau muntahkan dari otakmu, setelah membaca tulisan di atas..